NASEHAT UNTUK DIRIKU

Lidahmu harimaumu
            This well-known proverb saying words generally understood by most people generally. Yah siapa yang tidak kenal dengan kosa-kata ini, sempat  semakin terkenal ketika ada reklame di beberapa stasiun TV swasta. Dalam agama islam, menjaga lida  juga merupakan hal yang penting. Ada beberapa sahabat yang diperingatkan dengan peringatan yang keras karena mereka mencela sahabat senior. Dikatakan pada mereka “sesunggunhya kalian telah kafir setelah beriman, dst”. Dan ada kejadian seorang sahabat junior yang bernama (saya lupa namanya) mencela Abdurrahman Bin ‘Auf (sahabat senior dan salah satu dari 10 orang yang dijamin masuk syurga).kemudian rasulullah menegur sahabat yang mencela tersebut “walaupun kalian memiliki emas sebesar gunung uhud kalian tidak akan mampu menyaingi sedikitpun amal perbuatan dia”. Nah, sahabat yang duluan masuk islam aja beberapa tahun kedudukannnya seperti itu apalagi kita yang jauh rentang waktunya dengan mereka. Pake tidak suka sama Umar,  Mu’awwiyah dan Aisyah segala, pake fitnah Umar dengan fitnah yang menyatakan bahwa Umar pernah menikah dengan ibunya. Duh, Umar Radhiallahu ‘Anhu itu, sahabat mulia, posisinya urutan kedua setelah Abu Bakar Radhiallahu ‘Anhu. Mencintainya adalah wajib, no excuse. Mereka disebutkan dalam Al-Qur’an dengan frasa ‘Allah meridhoi mereka’. Nah, Allah saja Ridho sama mereka, mereka adalah orang-orang terpilih yang menemani Rasulullah. Jika Nabi Isa memiliki Hawariyyun yang menemaninya menyebarkan dakwah tauhid di masa itu. Maka Rasulullah memiliki sahabat yang menemaninya berdakwah dan berhijrah.
            Kata-kata sangat besar efeknya bagi psikologi manusia. Dalam ilmu eksak, kurang lebih 70 % dari tubuh manusia diisi oleh air. Jadi ketika anda menghina manusia baik secara langsung maupun tidak langsung anda sudah terhitung menghina dalam bab yang “dilarang dilarang menghina seorang muslim secara fisik” baik menghina tersbut berupa memicingkan mata, menggoyangkan lidah atau bagian bibir beberapa senti saja. Termasuk juga seperti “slurred” which mean ‘menghina dengan kata-kata’. Menghina jaman sekarang banyak bentuknya terkadang seperti melempar bola kearah depan namun sasaran utama pelemparan bola itu dimaksudkan agar mengenai bagian kiri sebab pelempar tahu persis lemparan akan menuju sisi kiri. Banyak bentuknya, nah ketika ini terjadi keadaan akan menjadi darurat bully. Bully bukan lagi hal yang tabu namun lumrah. Namun akankah pelaku sadar, bahwa suatu saat dia akan berada pada posisi yang sama bahkan lebih buruk seperti orang yang dia Bully atau hina?. Jika itu terjadi, itu balasan yang disegerakan. Jika belum dibalas mungkinkah akan bernasib seperti dalam hadits Mu’awwiyah?!. Yap, pernahkah kalian membaca atau mendengar hadits mu’awwiyah ini?. Mu’awwiyah bertanya kepada Rasulullah. Wahai Rasulullah akankah aku celaka karena Lidahku?. Iya Mu’awwiyah sesungguhnya ibumu akan kehilangan engkau dikarenakan karena ulah Lidahmu.. trus hadits lain lagi “seorang diseret dengan wajahnya menuju neraka dikarenakan dia tidak menjaga lidahnya”. Betapa besar mudharatnya lidah dan betapa celaka lidah yang tidak dijaga. Lalu apakah selamanya ghibah diharamkan?. Tidak!. rasulullah tentu telah member batasan yang jelas mengenai ghibah mana yang diharamkan dan dibolehkan. Seorang Alimah telah merangkum hadits-hadits pembolehan ghibah dalam bentuk bait syair yang indah, yang artinya kurang lebih seperti ini.
Ghibah itu dibolehkan dalam enam hal
Pertama menggibahi perbuatan fulan yang kelewat batas kepada hakim agar hakim bisa memutukan perkara dengan jelas
Kedua menggibahi berpuatan fulan yang terang-terangan berbuat kefasikan didepan umum sebagai peringatan kepada orang lain agar orang lain tidak tertipu atau terjerumus kedalam hal yang sama, eg. “dia itu penipu ulung hati-hati barang dan uangmu”. Bagi yang bisa menyadarkan orangya silahkan berteman, bisa jadi ini lahan dakwah anda
Ketiga menerangkan cacat “in attitude disorder” seseorang kepada orang tertentu agar orang tersebut tidak ditipu karena akan merugikan harta dan jiwa orang tersebut. Eg : hati-hati aja berteman ama itu orang dia itu suka mencela, tidak tahu terima kasih dsb.
Keempat den kelima, I’m forget. Cari sendirilah, ka nada mbah gugel, ang penting webnya shohih, ustadznya mumpuni, maka lets ask to them.  Visit : www.almakassari.com
So jelas, mana ghibah yang dibolehkan dan tidak dibolehkan. Kan dha gede, belajar lebih lanjut lagi yah? Jangan mau disuapin terus, carilah. Kalau kita benar-benar jujur untuk belajar, penulis hany perlu mengantarkannya, anda yang menyelam sendiri. so, good luck and baarakallah.
        Dan satu hal lagi, jika anda duduk dengan sekelompok orang dan anda bukan bagian dari mereka maupun bagian dari mereka trus mereka sengaja menceritakan seseorang dengan suara lantang, kelihatannya memang sengaja diperbesar volume suaranya agar kita mendengarnya maka jangan sampaikan kepada orang yang diceritakan sebab ini akan menimbulkan pertikaian diantara mereka. Toh, ujung dari cerita akan terungkap dengan caranya yang tepat dan sesuai waktunya. Sebab ada hadits yang menerangkan ini “cukuplah seorang dikatakan berdusta ketika ia menceritakan semua apa yang dia dengar”. Lupa siapa perawinya, ada yang bisa mengoreksi atau menambahkan demi kebaikan penulis dan bersama?. Syukran.
            Mengenai hidup bertetangga, Rasulullah mengatakan dalam hadits, “saya pikir tetangga itu akan mendapatkan harta warisan, sebab seringkali jibril mewasiatkan kepadaku akan berbuat baik kepada tetangga”. Nah ini dalam kepala orang yang mau belajar agama dengan jujur, mereport hadits apa adanya berusaha bangkit dalam keterpurukan diri dan lingkungan walau tertatih dan kadnag jatuh namun bangkit lagi dan jatuh lagi kemudian bangkit dalam proses belajar serta peng—aplikasiannya dalam hidup. Bagaimana dengan orang yang sengaja berpaling dari firman Allah yaitu Al-Qur’an dan hadits rasulullah atau malah sengaja menghina Al-Qur’an dan mengatakan Al-Qur’an is not reliable, AL-Qur’an is not relevance anymore in nowadays?. Dan kata-kata dengan nada merendahkan lainnya yang orang-orang non-muslimpun tidak berani menghina Al-Qur’an namun kata-kata seperti itu keluar dari mulut orang yang mengaku Islam dan bahkan ada yang sekolah di Institusi Islam pula, hah!?. Is that real?. Yup it is real. Yup, kembali ke pembahasan, tetangga pantas mendapat perlakuan baik, tetangga itu 40 rumah ke kiri, ke kanan, ke depan, ke belakang. Pokohnya, 40 rumah dari segala penjuru rumah kita pantas mendapat perlakuan baik. Namun bagaimana jika tetangga membuat keributan pad awaktu yang tidak lazim, ditegur malah tambah menjadi. Akankah bersabar?, yah bersabar, bukan berarti berpangku tangan, bersabar itu bermakna bersabar menegur, menegur dengan member efek jera, sebagaimana bersabar menjalankan hukum Qisas (you know Qisas? Ketika tanganmu terpotong, kau berhak meminta tanganya terpotong, ketika your safety being disturbed you deserved to do the appropriate action) sabar bukan berarti ketika orang menampar pipi kiri maka kau berikan ia pipi kananmu. It is not like that!. Sabar bukan berarti sabar yang engkau pahami dalam roman religi picisan, FTV religi, film religi serta sinetron murahan yang ter-display disetiap sudut rumah dalam kotak ajaib itu. Sabar itu gerakan aktif, kadang kita harus bergerak massive menjaga apa yang seharusnya dijaga, menghindari apa yang seharusnya dijauhi. Sabar itu harus diatas kebenaran sebagaimana dalam Al-Qur’an dikatakan “wa tawa shoubul haqqi wa tawa shoubu shobri. Which is mean ‘dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kesabaran’. So before anda menetapkan untuk sabar, tentukan “anda berada dibagian sabar yang mana, sabar dalam kebenarankah atau tidak”. sebab baik dalam pandangan anda belum tentu baik dalam pandangan orang, maka apa susahnya mengukur kebaikan itu pada nilai yang lebih universal yakni kebenaran menurut islam yakni Al—Qur’an, Sunnah dan Ijma Ulama. Penting melihat orang dari kultur yang mana, sebab beda kultur beda pendekatan juga. Terkadang beda budayya itu masalah yang agak nyusahin, berbicaralah kepada suatu kaum dengan bahasa yang bisa mereka pahami, dengan cara yang mereka senangi, jangan buat mereka lari hanya karena cara kita yang salah. Lebih memahami orang dari hati kehati itu penting sekali, dan itu diketahui dengan memahami budayanya, tabiat pribadinya. yyou know what? Rasulullah itu orang yang paham semua dialek arab, ketika dia berdakwah. Dia menggunakan dialek masyarakat tersebut. Then banyak alim yang pintar berbagai bahasa loh!, bahkan dalam buku Zero To Hero sahabat yang bernama Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Ibrani kurang lebih dalam waktu sepekan saja, for what? Untuk kepentingan dakwah. Itu kan sahabat itu orang yang diridhoi dan manusia terpilih yang ditakdirkan untuk berdakwah bersama Rasulullah.
            Akankah engaku berpaling atau enggan terhadap peringatan Allah padahal peringatan serta nasehat itu telah jelas, malamnya sama dengan siangnya. Sakign jelasnya risalah yang dibawa oleh Allah itu. At last but not least (kata guru sastra ane, frasa ini biasa ditempatkan diakhir cerita atau tulisan yang menandakan inti pembicaraan) ada firman Allah yang begitu menyentuh, extremely menyentuh, too deep for me which sound “yaumu ya addu dhoolimiina ‘alaa yadaihi “yaa wailatanii lam attakhadz fulaanan khaliila laqad adhollu ‘ani dzikri ba’da idz jaa’ana wa … ” yang artinya “hari dimana ketika orang-orang  dzolim itu menggigit kedua tangannya (perhatikan bukan menggigit satu jari tetapi kedua tangannya)” dan berkata betapa celakanya aku, kenapa aku menjadikan fulan sebagai teman akrabku sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dan memalingkan aku dari dzikir kepada Allah padahal telah datang kebenaran itu dengan sejelas-jelasnya…”. Nah itu peringatan dari Al-Qur’an. Trus peringatan dari Nabi seperti ini “ar-rojulu ma’a kholiliy” ‘seseorang itu bersama dengan temannya’ yang bermakna seseorang itu tergantung kebiasaan orang yang dia temani jalan, temani dalam kesehariannya. (maaf benar ni, reader saya tidak sertakan tulisan arabnya kerena saya lupa ayat berapa ini dalam Al-Qur’an. Ada yang bisa membantu?! Please?! Sebutin ayat berapa dan surah apa? Dari ayat al-qur’an aumu ya’adhu dzoolimiina sebab tulisan latin ini belum mewakili tulisan arabnya, jadi mohon dimaklumi). Ada juga itu ayat Al--Qur’an yang artinya kurang lebih seperti ini “hari dimana orang-orang itu dibangkitkan dalam keadaan buta, mereka bertanya “aduhai mengapa aku dibangkitkan dalam keadaan buta, padahal dahulu aku didunia tidak dalam keadaan seperti ini” kemudian berbunyilah suara “karena engkau melupakan Aku di dunia maka hari ini Kami melupakan engkau””. Benar-benar logikan tuntunan ini? Jika kita melupakan Allah hari ini maka In syaa Allah, Allah juga tidak akan memberikan keridhoanNya diakhirat kelak.
           Jadi, belajarlah kepada seorang ulama Rabbaniyyun yang menasehati dengan penuh kasih sayang dan hikmah. Jika engkau bingung dengan banyaknya kelompok dalam agama ini, maka tengoklah kebelakang sedikit, Ketika Rasulullah mengabarkan akan terpecahnya umat islam diakhir jaman menjadi kurang lebih 72 golongan-golongan. Sahabat yang agung sebagai teladan kita bertanya seperti ini kepada rasulullah “kelompok mana yang akan saya ikuti?” bukan bertanya “macam mana ini? Kenapa banyak sekali kelompok atau golongan yang saling menghujat dan mencela? Pusing kepala ini”. Mari belajar sama-sama walau tertatih dan menyusahkan, di sela-sela waktu mencari dollar dan sesuap nasi. Sebagimana nasehat wahhab bin Munabbih “Jika kau mampu jadilah seorang ulama, jika tidak jadilah seorang penuntut ilmu, jika tidak jadilah orang biasa yang mengikuti mereka dan jangan mencela mereka”. There is no excuse, this your turn to just do it or never do it coz life never give you excuse even for a second. Just move your legs to reach the place then hear the admonition thus imply it in your life as you could.
            Pernahkah engkau berpikir kira—kira orang yang dalam kubur itu telah lama meninggal dan mereka sementara sedang diuji dengan berbagai pertanyaan dalam ruang sempit pada kurun waktu yang tidak menentu sementara manusia hanya hidup dalam waktu yang cukup sempit. Jadi pikirkan baik-baik.
Oh iya, kok at last but not least nya banyak ya? Ya sudah, sekian dan mohon maaf jika ada banyak salah dalam penulisan saya, ini perspektif saya setelah beberapa waktu jarang belajar agama dan taklim. Ini nasehat untuk diriku sebenarnya, sebab tidak ada yang tahu akhir hidup seseorang maka ketika nafas dan kesempatan masih ada, mari perbaiki diri masing-masing, lebih sibuk mencari aib dan menjaga iffah serta izzah pribadi kita lebih baik. Memperbaiki diri merupakan bagian dari berbakti kepada orang tua, sebab kebaikan itu saling mempengaruhi sebagaiman keburukan saling mempengaruhi antara anggota keluarga dan teman.
Baarakallah liy wa lakum (semoga keberkahan bagi saya dan bagiku).    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar